PROVINSI SULAWESI BARAT DENGAN SUKU MAMUJU/MAMASA
Kali ini kita akan membahas sebuah
kehidupan sosial yang dilakukan pada sebuah suku di provinsi Sulawesi Barat
yaitu tentang suku Mamuju atau biasa dikenal disana suku Mamasa. Suku mamuju
tidak hanya ada di Sulawesi Barat saja mereka tersebar juga di provinsi
Sulawesi Tengah.
Di provinsi Sulawesi banyak terdapat
macam-macam suku salah satu suku yang berkerabat dengan suku mamasa adalah suku
toraja yang mempunyai kemiripan. Suku mamasa tidak memiliki adat istiadat
sebanyak suku toraja. Salah satu adat istiadat orang Mamasa sebagian masih ada
yang mempraktekkan tradisi dari agama tradisional leluhur mereka yang
disebut "Ada' Mappurondo" atau "Aluk Tomatua". Tradisi
agama tradisional ini tetap terpelihara dan terus terwariskan ke generasi
berikutnya. Tradisi dari Ada 'Mappurondo ini dilaksanakan terutama setelah
panen padi berakhir sebagai ucapan
syukur atas hasil panen mereka.
Mayoritas suku
mamasa memeluk agama Kristen umumya penduduk Mamasa memeluk agama Kristen sejak
bangsa belanda dimasa penjajahan lalu. Suku tersebut memiliki banyak adat, salah
satunya rumah adat yang mereka tinggali bentuk rumah mereka sangatlah unik
berbentuk seperti kapal. Rumah-rumah tersebut memiliki 5 jenis bentuk
tergantung dari tingkat sosialnya salah satunya dengan nama “Banua Rapa”. Rumah
ini memiliki warna yang masih asli tidak diukir dan tidak dihitamkan rumah ini
dihuni oleh kalangan masyarakat biasa, dan rumah yang dinamai dengan “Banua
Sura” yang artinya Rumah Ukir yang diartikan dari kata “sura” berarti “ukir”
dan “banua” adalah “Rumah” rumah seperti ini berbentuk besar dan tinggi rumah
seperti ini dihuni dengan pemimpin dalam masyarakat suku mamasa dan orang
bangsawan yang menempatinya.
Dari semua rumah
adat memiliki symbol yang sama yaitu sebagai symbol eksistensi rumah adat itu
sendiri, dan seiring perkembangan zaman rumah adat tersebut semakin hilang dari
symbol tersebut. Sesuai dengan persamaannya dengan suku Toraja rumah tersebut
juga memiliki kemiripan yaitu dari bentuknya. Rumah adat Mamasa meiliki bentuk
atap kayu yang berat dan tidak terlalu melengkung sedangkan rumah adat suku toraja
memiliki bentuk atap kayu seperti huruf “U”.
Sebagai
mata pencaharian masyarakat suku Mamasa kebanyakan hidup pada hasil pertanian
seperti menanam padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau,
kacang kedelai, sayur-sayuran dan berbagai jenis buah-buahan. Mereka juga
memiliki perkebunan yang ditanami kopi dan kakao yang dikelola dengan cara
tradisional dalam pertanian memiliki banyak potensi dari jumlah lahan belasan
hektar yang masih produktif dan masih bias ditingkatkan lagi tergantung mereka
yang mengolahnya menjadi lebih baik lagi. Di luar bidang pertanian, mereka juga
memelihara hewan ternak, seperti babi, kerbau, sapi, kuda, kambing, ayam dan
bebek. Sebagai kebutuhan protein hewani
mereka mengonsumsi hewan tersebut , dan hewan-hewan itu juga dijual untuk
menambah penghasilan keluarga.
Dengan populasi masyarakat
Mamasa yang tidak sedikit seharusnya
sumber daya manusia di mamasa bisa sangat
berpotensi jika dikembangkan dengan pendidikan diluar bisa membantu
wilayah mereka sendiri untuk berkembang. Tetapi kebanyakan orang-orang mamasa
tidak ingin mengembangkan potensinya mungkin dari adat istiadat yang sudah
kental atau hal yang lainnya. Maka
seharusnya pemerintah bisa membantu mereka untuk bisa mengembangkan setiap potensi yang mereka
miliki dengan cara manambah sekolah-sekolah yang standartnya, pendidikan
tingkat tinggi dan lainnya untuk membantu masyarakatnya.
Kebudayaan di suku Mamasa
memang unik dan bermacam-macam salah satunya adalah sebuah tarian yang disebut
tarian Manganda yaitu tarian yang mengekspresiakan rasa syukur mereka setelah melakukan perang di
Kabupaten Mamasa. Tarian ini merupakan warisan budaya dan tradisi raja-raja dulu di Mamasa. Tarian ini
sering juga ditampilkan dipakai pada
acara penyambutan tamu penting yang berkunjung ke Kabupaten Mamasa untuk menunjukkan bahwa
Mamasa adalah salah satu daerah yang
kaya, dan tarian ini menjadikan suatu asset akan wisata sekaligus menjadi ikon
wisata di Sulawesi Barat.




Suku Mamasa bukan suku mamuju bos
BalasHapus